Artikel

JUL 09

Gangguan Pemusatan Perhatian

July 09, 2013 | by Admin Tk Syuhada
Dalam melaksanakan pembelajaran, tidak jarang guru menemukan kesulitan belajar pada anak. Beberapa kesulitan belajar yang dialami anak dapat mengganggu aktivitas pembelajaran. Oleh karena itu sebagai guru, kita harus dapat mengenali kesulitan belajar tersebut. Salah satu dari gangguan atau kesulitan belajar adalah gangguan pemusatan perhatian, dapat disertai ataupun tidak disertai hiperaktivitas atau yang biasa dikenal dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). ADHD bila tidak segera ditangani akan dapat berdampak pada prestasi akademik, gangguan emosional, isolasi sosial, motivasi belajar menurun dan kelainan perilaku.
Anak dapat dikatakan mempunyai gangguan ADHD bila memenuhi beberapa persyaratan. Gangguan ini berlangsung dimana saja dan kapan saja dan sudah berlangsung 6bulan atau lebih. Gejala ADHD dapat terdeteksi pada usia 2/3 tahun, namun kadang-kadang baru terdeteksi pada usia 7 tahun.
Ciri-ciri anak dengan ADHD diantaranya adalah:
DEFISIT ATENSI/ INATTENTION
1.    Tida dapat menyelesaikan tugas
2.    Seolah—olah tida mendengarkan
3.    Perhatian mudah beralih
4.    Kesulitan konsentrasi pada tugas
5.    Lupa tugas sehari-hari
HIPERAKTIF
1.    Sering tangan/kaki tidak dapat diam, berputar-putar di tempat duduk
2.    Meninggalkan tempat duduk, berlari-lari, atau memanjata berlebihan
3.    “Always on the go”
4.    Sering berbicara berlebihan (hiperverbal)
IMPULSIF
1.    Berbuat sesuatu sebelum berfikir
2.    Tidak dapat tekun pada suatu aktivitas atau permainan
3.    Terlalu cepat menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
4.    Sulit menunggu giliran dalam kelompok
5.    Sering interupsi/ mengganggu orang lain
6.    “Temper outburts”
ADHD dapat disebabkan oleh faktor genetik/ keturunan, adanya gangguan fungsi neurotransmitter dopamin dan norepinefrin. Dopamin di otak sebagian besar untuk mengatur gerakan sedangkan nor-epinefrin mengontrol kewaspadaan, perhatian selektif, orientasi dan respon terhadap stimulasi sensorik. Selain itu faktor lingkungan juga berpengaruh pada terjadinya kesulitan pemusatan perhatian.
Penanganan ADHD harus dilakukan sedini mungkin. Penanganan yang dapat dilaukan diantaranya dengan pendidikan remeditasi pada anak dengan kesulitan belajar spesifik berupa terapi komunikasi interaktif, integrasi sensoris, gerak dan latih otak (brain exercise), Psiko-sosial-emosional, aktivitas akademik, terapi modifikasi perilaku, terapi individual pada anak, pendidikan pada orang tua, dan pemberian obat (methylphenidate, dextroamphetamin, imipramin) untuk memperbaiki gangguan fungsi neurotransmitter. Penelitian menunjukkan hasil yang lebih baik dengan kombinasi penanganan modifikasi perilaku, pendidikan remedial dan pemberian obat.

Sumber: Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar pada anak (Lily Djoko Sidiarto)

Gloria Agustina, S. Pd